Mariska Nara

Experience and Daily Activity

Langganan Banjir Tahunan di Makassar

Langganan Banjir Tahunan di Makassar

Sudah 2 minggu terakhir ini di Makassar, hujan turun tanpa henti, disertai angin kencang. Beberapa kecamatan di Makassar terpaksa harus mengungsi karena area tumah mereka kebanjiran atau rusak karena angin puting beliung. Sungguh memprihatinkan 😦

Beberapa hari yang lalu saya maen ke tempat sodara saya di daerah perumahan kompleks IDI Antang, trus pas di rumah sodaraku ketemuan ama Tante Vina juga yang lagi maen. Tante Vina ini tinggal di dekat situ, yaitu daerah Bukit Batu, kecamatan Manggala. Iseng – iseng aja saya ngomong kalo mo maen ke rumahnya, si Tante ngomong ” Jangan, lagi banjir… susah kalo mo kesana, harus naik perahu.” Saya sih gak papa, sekalian pengen tahu aja… :-p

Ternyata… emang benar harus naik perahu kecil n’ kalo goyang sedikit aja, bisa jatuh ke dalam air😀 rada serem juga, karena sebenarnya kapasitas kapal hanya untuk 2 orang. Qta bertiga, nekat naik… sambil tertawa – tawa & deg – degan, abis takit jatuh. Air sebenarnya tidak dalam, yah… sebatas pinggang orang dewasa. Dan untungnya juga saat itu tidak hujan, jada rada aman dikit.

Buat anak – anak… banjir ini memberi keceriaan🙂, mereka bisa berenang dan bermain air dengan gembira.

Nyeberang naik perahu, gak sampai 5 menit uda nyampe. Setelah itu dilanjutkan dengan jalan kaki sebentar… ternyata perjalanan belum berakhir, akses jalan menuju rumah Tante ternyata sudah dipenuhi air. Awalnya, saya berpikir air cuma sebatas kaki… ternyata saya salah… air depan rumah Tante, sama parahnya di penyeberangan, hampir sepinggang orang dewasa. Untungnya rumah Tante, adalah rumah panggung. Jadi gak khawatir kalo barang – barangnya kebawa ama air.

Padahal ketika kecil, saya sering bermain – main di sawah sekitar situ, waktu itu belum ada rumah – rumah. Yang ada hanya sawah, saya pun masih bisa memandang sungai Tello dengan jelas. Tapi sekarang sungai Tello sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanya rumah – rumah penduduk. Waktu kecil, ketika kami bermain atau memancing, kami bisa menemukan hewan biawak, sekarang rasanya kehidupan mereka sudah tersingkir. Berganti dengan rumah penduduk. Siapa yang bisa disalahkan??? Manusia butuh tempat tinggal, begitupun hewan. Saya jadi teringat sama cerita Santo Fransiskus Asisi yang bersahabat dengan hewan – hewan. Dia tidak pernah menyakiti hewan, bahkan menyebut hewan sebagai Saudara.

Dulu dan Sekarang

Hujan adalah berkat dan rahmat Tuhan. Ketika banjir melanda, kita harus instropeksi diri kembali.

Apakah aku menjaga lingkunganku dengan baik?

December 29, 2007 - Posted by | Pristiwa Menarik & Memprihatinkan | , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: