Mariska Nara

Experience and Daily Activity

Guru Bahasa Mandarin perlu regenerasi

Pas browsing di internet, saya nemu artikel dari Jambi Independent On-line yang menarik buat saya yaitu tentang kelangkaan jumlah Guru Mandarin di Jambi, sebenarnya tidak hanya di Jambi… di Makassar juga koq🙂

Guru Bahasa Mandarin Butuh Regenerasi
Posted on Wednesday, July 26 @ 00:28:51 WIT by redaks

| 26-07-2006 |
Usia Mereka Rata-rata Diatas 60 Tahun.
MUHAMMAD ARIS, Jambi.
LAHIRNYA Undang-Undang(UU) kewarganegaraan 2006 dan diakuinya ajaran Khonghucu di Indonesia, disambut antusias kalangan warga Tionghoa. Hanya saja, karena sempat tertekan hampir 30 tahun sejak 1965, membuat tidak leluasa bergerak, termasuk perkembangan Seni dan budaya mereka. Salah satunya, semakin berkurangnya guru bahasa mandarin di Jambi, bahkan bisa dikatakan mulai langka.
Sebelumnya, masa keemasan perkembangan pendidikan bahasa mandarin terjadi hingga akhir tahun 1965. di Jambi sendiri, dimasa itu terdapat sedikitnya tujuh sekolah mandarin yang tersebar di Jambi. Sementara, para eks guru yang sempat mengajar waktu itu, sudah banyak beralih profesi, meski sebagian dari mereka berbisnis dan bertahan mengajar disela-sela aktivitas sehari-harinya.Ke-tujuh sekolah mandarin itu, adalah Ie-Hua(kini SMP 10 Jambi) di Tanjung Pinang, Sau Cong, Pei Hua yang berlokasi di Thehok, Cen Nan(kini SMP 2 Jambi), I-Ming yang berlokasi di lebakbandung, Con Hua(kini kampus Universitas terbuka(UT) Unja) dan Tan Tang yang berada di Pasar Jambi.Tanoto S, Alumni dan mantan pengajar di Ie-Hua School mengatakan, sebelum tahun 1966, perkembangan pendidikan bahasa mandarin di Jambi cukup baik, bahkan waktu itu beberapa sekolah mandarin berdiri dan tersebar di Jambi. “Sedikitnya, ada tujuh sekolah mandarin di Jambi waktu itu,” kata Tanoto, yang juga ahli akupunktur itu kepada Jambi Independent, kemarin.Namun, setelah tahun 1966, atas kebijakan pemerintah Indonesia waktu itu, sekolah-sekolah Tionghoa akhirnya ditutup, tidak hanya di Jambi, tapi diseluruh Indonesia. Akibatnya, anak didik banyak yang putus sekolah dan para guru bahasa mandarin, ada yang berhenti mengajar ada juga yang kembali ke Negera asalnya(Cina).”Kondisi yang tidak kondusif itu, membuat perkembangan bahasa mandarin terputus hingga ke generasi sekarang,” katanya.

Menurut dia, sejak penutupan sekolah mandarin itu. Dirinya sendiri terpaksa harus ke Jakarta untuk menimba ilmu disana. “Di Jakarta, dirinya belajar sekolah di Qua Im(setingkat SMA) di Semarang selama tiga tahun,” ungkap Tanoto jebolan Ie Hua tahun 1957 itu.

Selanjutnya, dirinya sempat mengajar di sekolah Qua Im selama setengah tahun(1965) dan sebuah sekolah swasta di Bandung selama setengan tahun(1965). Sebelumnya, dirinya juga pernah mengajar di Ie Hua setahun(1961-1962). Tanoto-pun sempat menyebut rekan seperjuangannya, diantaranya, Yek Cok Ming, Li Cun Tong, Linda.”Yek Cok Ming, guru paling senior saat ini,” terangnya.

Mandeknya perkembangan pendidikan bahasa mandarin sekitar 30 tahun lebih itu, juga berdampak negative untuk generasi sekarang. “Bila dihitung-hitung, guru bahasa mandarin Jambi yang tinggal hanya sekitar sepuluh orang lagi,” sebut Tanoto.

Untuk itu, kata dia, perlu regenerasi guru bahasa mandarin, dengan cara mendatangkan guru bahasa mandarin dari luar untuk memberikan pendidikan kepada guru-guru yang ada saat ini ataupun kepada generasi sekarang.

Senada diungkapkan Li Pei(60), kepada Jambi Independent ditemui terpisah kemarin mengakui, belasan guru bahasa mandarin di era 1960-an tidak banyak lagi, itupun rata-rata usia mereka sudah diatas 60 tahun.

Dirinya mengaku, tamat belajar di SMP Ie-Hua school tahun 1962 dan sempat mengajar 1963-1964.”Karena sekolah mandarin ditutup tahun 1966, dirinya sempat berangat dan belajar menjahit di Jakarta tahun 1967,” kata Li Pei kemarin.

Meski sempat ditutup, dirinya masih mencuri waktu membuka les belajar bahasa mandarin dirumahnya,. Karena alasan keamanan waktu itu, dirinya berhenti mengajar. Saat ini disela-sela kesibukannya, dirinya mengajar bahasa mandarin di salah satu yayasan di Jambi Li Pei menjelaskan, untuk generasi sekarang sebagian besar sudah tidak paham lagi baca tulis bahasa mandarin. “Bahkan, beberapa warga Tionghoa yang sudah berumur minta dirinya diajarkan tulis baca bahasa mandarin, “ kata Li Pei, yang saat ini membuka kursus menjahit di kawasan KONI Jambi.

Li Cun Tong(64), alumi dan juga mantan guru di Ie-Hua school tahun 1961-1963, mengakui kembali kedunia pendidikan untuk menjadi guru bahasa mandarin disalah satu sekolah swasta di Jambi. Meski sudah pensiun, karena masih dibutuhkan, harus kembali lagi kedunianya, selain merasa dibutuhkan juga karena panggilan hati nurani. “Saya kembali mengajar, karena panggilan hati nurani, apalagi untuk mencari guru mandarin saat ini cukup sulit,” kata Ali Basri-panggilan Li Cun Tong.

Pria kelahiran Jambi 1942 lalu itu mengakui, saat ini perlu regenerasi guru bahasa mandarin, karena saat ini dirasakan sudah langka.(*)

December 23, 2007 - Posted by | bahasa Mandarin | ,

1 Comment »

  1. Sekarang ini sudah tumbuh banyak generasi muda. contohnya sekarang sudah banyak bermunculan kesempatan kuliah jurusan bahasa mandarin dan itu banyak diminati oleh anak2 yang baru lulus SMA. mereka tidak hanya kuliah di dalam negeri, mereka juga kuliah ke luar negeri, seperti ke guangzhou.
    dua tahun ke depan pasti jumlah guru bahasa mandarin akan mencukupi.

    Comment by Erni Lusnawati (陈珊珊) | March 7, 2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: