Langganan Banjir Tahunan di Makassar
Sudah 2 minggu terakhir ini di Makassar, hujan turun tanpa henti, disertai angin kencang. Beberapa kecamatan di Makassar terpaksa harus mengungsi karena area tumah mereka kebanjiran atau rusak karena angin puting beliung. Sungguh memprihatinkan
Beberapa hari yang lalu saya maen ke tempat sodara saya di daerah perumahan kompleks IDI Antang, trus pas di rumah sodaraku ketemuan ama Tante Vina juga yang lagi maen. Tante Vina ini tinggal di dekat situ, yaitu daerah Bukit Batu, kecamatan Manggala. Iseng – iseng aja saya ngomong kalo mo maen ke rumahnya, si Tante ngomong ” Jangan, lagi banjir… susah kalo mo kesana, harus naik perahu.” Saya sih gak papa, sekalian pengen tahu aja… :-p
Ternyata… emang benar harus naik perahu kecil n’ kalo goyang sedikit aja, bisa jatuh ke dalam air
rada serem juga, karena sebenarnya kapasitas kapal hanya untuk 2 orang. Qta bertiga, nekat naik… sambil tertawa – tawa & deg – degan, abis takit jatuh. Air sebenarnya tidak dalam, yah… sebatas pinggang orang dewasa. Dan untungnya juga saat itu tidak hujan, jada rada aman dikit.
Buat anak – anak… banjir ini memberi keceriaan
, mereka bisa berenang dan bermain air dengan gembira.
Nyeberang naik perahu, gak sampai 5 menit uda nyampe. Setelah itu dilanjutkan dengan jalan kaki sebentar… ternyata perjalanan belum berakhir, akses jalan menuju rumah Tante ternyata sudah dipenuhi air. Awalnya, saya berpikir air cuma sebatas kaki… ternyata saya salah… air depan rumah Tante, sama parahnya di penyeberangan, hampir sepinggang orang dewasa. Untungnya rumah Tante, adalah rumah panggung. Jadi gak khawatir kalo barang – barangnya kebawa ama air.
Padahal ketika kecil, saya sering bermain – main di sawah sekitar situ, waktu itu belum ada rumah – rumah. Yang ada hanya sawah, saya pun masih bisa memandang sungai Tello dengan jelas. Tapi sekarang sungai Tello sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanya rumah – rumah penduduk. Waktu kecil, ketika kami bermain atau memancing, kami bisa menemukan hewan biawak, sekarang rasanya kehidupan mereka sudah tersingkir. Berganti dengan rumah penduduk. Siapa yang bisa disalahkan??? Manusia butuh tempat tinggal, begitupun hewan. Saya jadi teringat sama cerita Santo Fransiskus Asisi yang bersahabat dengan hewan – hewan. Dia tidak pernah menyakiti hewan, bahkan menyebut hewan sebagai Saudara.
Hujan adalah berkat dan rahmat Tuhan. Ketika banjir melanda, kita harus instropeksi diri kembali.
Apakah aku menjaga lingkunganku dengan baik?
Guru Bahasa Mandarin perlu regenerasi
Pas browsing di internet, saya nemu artikel dari Jambi Independent On-line yang menarik buat saya yaitu tentang kelangkaan jumlah Guru Mandarin di Jambi, sebenarnya tidak hanya di Jambi… di Makassar juga koq
Guru Bahasa Mandarin Butuh Regenerasi
Posted on Wednesday, July 26 @ 00:28:51 WIT by redaks
Usia Mereka Rata-rata Diatas 60 Tahun.
MUHAMMAD ARIS, Jambi.
LAHIRNYA Undang-Undang(UU) kewarganegaraan 2006 dan diakuinya ajaran Khonghucu di Indonesia, disambut antusias kalangan warga Tionghoa. Hanya saja, karena sempat tertekan hampir 30 tahun sejak 1965, membuat tidak leluasa bergerak, termasuk perkembangan Seni dan budaya mereka. Salah satunya, semakin berkurangnya guru bahasa mandarin di Jambi, bahkan bisa dikatakan mulai langka.
Menurut dia, sejak penutupan sekolah mandarin itu. Dirinya sendiri terpaksa harus ke Jakarta untuk menimba ilmu disana. “Di Jakarta, dirinya belajar sekolah di Qua Im(setingkat SMA) di Semarang selama tiga tahun,” ungkap Tanoto jebolan Ie Hua tahun 1957 itu.
Selanjutnya, dirinya sempat mengajar di sekolah Qua Im selama setengah tahun(1965) dan sebuah sekolah swasta di Bandung selama setengan tahun(1965). Sebelumnya, dirinya juga pernah mengajar di Ie Hua setahun(1961-1962). Tanoto-pun sempat menyebut rekan seperjuangannya, diantaranya, Yek Cok Ming, Li Cun Tong, Linda.”Yek Cok Ming, guru paling senior saat ini,” terangnya.
Mandeknya perkembangan pendidikan bahasa mandarin sekitar 30 tahun lebih itu, juga berdampak negative untuk generasi sekarang. “Bila dihitung-hitung, guru bahasa mandarin Jambi yang tinggal hanya sekitar sepuluh orang lagi,” sebut Tanoto.
Untuk itu, kata dia, perlu regenerasi guru bahasa mandarin, dengan cara mendatangkan guru bahasa mandarin dari luar untuk memberikan pendidikan kepada guru-guru yang ada saat ini ataupun kepada generasi sekarang.
Senada diungkapkan Li Pei(60), kepada Jambi Independent ditemui terpisah kemarin mengakui, belasan guru bahasa mandarin di era 1960-an tidak banyak lagi, itupun rata-rata usia mereka sudah diatas 60 tahun.
Dirinya mengaku, tamat belajar di SMP Ie-Hua school tahun 1962 dan sempat mengajar 1963-1964.”Karena sekolah mandarin ditutup tahun 1966, dirinya sempat berangat dan belajar menjahit di Jakarta tahun 1967,” kata Li Pei kemarin.
Meski sempat ditutup, dirinya masih mencuri waktu membuka les belajar bahasa mandarin dirumahnya,. Karena alasan keamanan waktu itu, dirinya berhenti mengajar. Saat ini disela-sela kesibukannya, dirinya mengajar bahasa mandarin di salah satu yayasan di Jambi Li Pei menjelaskan, untuk generasi sekarang sebagian besar sudah tidak paham lagi baca tulis bahasa mandarin. “Bahkan, beberapa warga Tionghoa yang sudah berumur minta dirinya diajarkan tulis baca bahasa mandarin, “ kata Li Pei, yang saat ini membuka kursus menjahit di kawasan KONI Jambi.
Li Cun Tong(64), alumi dan juga mantan guru di Ie-Hua school tahun 1961-1963, mengakui kembali kedunia pendidikan untuk menjadi guru bahasa mandarin disalah satu sekolah swasta di Jambi. Meski sudah pensiun, karena masih dibutuhkan, harus kembali lagi kedunianya, selain merasa dibutuhkan juga karena panggilan hati nurani. “Saya kembali mengajar, karena panggilan hati nurani, apalagi untuk mencari guru mandarin saat ini cukup sulit,” kata Ali Basri-panggilan Li Cun Tong.
Pria kelahiran Jambi 1942 lalu itu mengakui, saat ini perlu regenerasi guru bahasa mandarin, karena saat ini dirasakan sudah langka.(*)
Daya tangkap anak kecil luar biasa dalam belajar bahasa Mandarin
Tempat memancing
Memancing adalah kesenangan saya sejak kecil, meskipun bukan pemancing profesional, just for fun
Bulan puasa kemarin kan banyak waktu liburan, so it’s a good moment for me to go for fishing. Berangkat bersama 3 orang teman: Yani, Deli & Suang. Kami menuju ke Sungai Jeneberang, lokasinya gak jauh dari Mall GTC-Tanjung Bunga dan sampai disana uda banyak para pemancing lain yang ngabisin waktu menunggu jam buka puasa.
Hawa udara laut yang panas sangat terasa, karena matahari bersinar terik tapi karena kami memancing dibawah jembatan, jadi gak panas deh…:-) Sungai Jeneberang atau orang Makassar sering menyebut sebagai muara merupakan pertemuan antara sungai dan laut. Sambil memancing, sesekali di depan kami melintas perahu nelayan, sungguh pemandangan yang indah. Sehari memancing, hasilnya cuma dikit
hehe… gak papa, yang penting pikiran fresh.
Bahasa Mandarin…my fave language
Sejak kecil saya hobi banget nonton film – film silat Cina, mulai dari serial Yoko, Princess Cheong Ping, To Liong To dan masih banyak lagi, soalnya sudah lupa judulnya
Dari situlah saya mulai menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan Cina, bahkan waktu SD kalo mo ke sekolah, saya biasanya minta ama mami supaya rambut saya diikat yang cantik kayak pemain silat cewek. Biasanya lagi saya melihat beberapa teman saya di sekolah membawa buku les bahasa Mandarin mereka, keliatannya kog hebat banget… sampai saya berpikir bahwa suatu waktu saya juga harus bisa dan ternyata saya bisa …
Tahun 2001 yang lalu saya sudah mencapai Tembok Beijing meskipun hanya sekedar jalan – jalan ama orang tua dan setahun kemudian saya menetap di Beijing selama 1 tahun. Waktu pertama kali ke Cina, susah banget ngerti orang – orang Cina pada ngomong apa sih. . . sepanjang jalan hanya tulisan Cina, gak ada bahasa Inggrisnya. . . waktu mo belanja pun saya bawa buku nunjukin ke mereka beberapa huruf Cina, mereka pun gak ngerti. Bete deh…
Tapi saya pun tidak menduga bahwa tahun 2002, saya akan menetap di Beijing – Cina. Pengalaman luar biasa yang tidak akan saya lupakan . . . dan bahkan ketika teman – teman orang tua saya dari Jakarta datang, saya bisa menjadi tour guide mereka… mengajak mereka ke tempat – tempat belanja yang murah – murah abis
China… my dreams come true.
Praise God and thx Mami, Papi and my family for all support !
感谢天主,我父母 和 我家里人!
Natal telah tiba…
Hari ini para siswa sudah bebas dari hari – hari perjuangan mereka menghadapi ulangan – ulangan semester. Tawa dan canda bahagia mereka terdengar begitu lepas. Saya pun larut dalam kegembiraan mereka. . .
Bulan Desember, akhir dari tahun 2007. . . sebentar lagi natal. . . semua berjalan begitu cepat. Murid – murid berlatih menyanyi untuk persiapan perayaan natal di sekolah, suara mereka yang khas anak – anak membuat saya merasa terharu. Padahal murid – murid saya nyanyinya keras banget n’ pake acara teriak – teriak, hehe…dasar anak – anak
Nyanyian dan suara mereka benar – benar polos. . .
Terima kasih Tuhan untuk kehadiran saya di tengah – tengah mereka.
Malaikat – malaikat kecilmu yang selalu membuat saya merasa dibutuhkan, membuat saya belajar menjadi sabar, membuat saya tertawa, membuat saya merasa menjadi anak kecil, membuat saya tidak egois, membuat saya belajar berbagi kasih . . . Amin.





